Romano MatteStres Mencari Formula Menang

indofutbol.com - PSSI Primavera? “Ini tim masa depan. Pergerakan dan kecepatan pemain serta keterampilan individu, semua menyatu menuju kemenangan. Gaya sepak bola mereka atraktif. Kalau boleh disebut kami beruntung bisa menahan imbang tim Anda. Jujur saja, kami banyak ditekan, dan tim Anda punya begitu banyak peluang. Tapi itulah sepak bola.”
Siapa yang mengatakannya barangkali membuat Anda sedikit terkejut. Humberto Redes, orang Brasil yang mengepalai kepelatihan di tim nasional junior Qatar. Namun di saat berlainan, entah mengapa Romano Matte, pelatih PSSI Primavera yang asal Italia itu, sulit diajak berbicara. Ketika ditemui sedang menyaksikan partai Irak vs Suriah, pandangannya tertuju hanya ke lapangan hijau. Ups, begitu seriusnya.
Ini sangat kontras jika sedang melatih Primavera. Di lapangan dia banyak mengumbar kata-kata, bahkan suka menggelegar. Di luar urusan, diam lebih dipilihnya. Stres? Kelihatannya begitu. Ia merasa bebannya bertambah berat usai hasil imbang 1-1 melawan Qatar. Melihat animo dan harapan masyarakat Indonesia yang tinggi pada Kurniawan Dwi Yulianto dkk, mau tidak mau ia terus berputar otak untuk menemukan formula kemenangan.
Seperti tipikal sepak bola Italia yang memuja kemenangan di atas segala-galanya, di mana main buruk namun menang lebih dipilih dari main bagus tapi tidak menang, agaknya Don Romano sepakat. Ada sedikit persamaan persepsi antara sepak bola Indonesia dan di negaranya. Untuk itulah, dia mengorbankan waktu untuk sebanyak-banyaknya mengintai calon musuh demi menemukan formula baru kemenangan.
Siapa sebenarnya Romano Matte? Pria bersuara keras dan berkumis tebal ini lahir di Verona, Italia Utara pada 17 Januari 1939. Usia yang cukup disebut veteran di sepak bola. Mister Matte mengawali karier sebagai pelatih sejak 1962 di klub amatir Fiumeler Verona. Sebelum melatih Primavera, dia adalah seorang director di klub kondang Sampdoria.
Lalu kerjasama klub itu dengan PSSI, ketika memfasilitasi infrastruktur dan instruktur untuk tim Primavera saat berlatih di Tavarone pada 1994, membawa pria yang sebenarnya suka bercanda ini berkelana ke Indonesia, yang sama sekali tidak pernah diimpikan untuk didatangi. Kini dia menjadi pelatih kepala PSSI Primavera.
Sejak di Tavarone dia memang sudah menjadi instruktur PSSI Primavera, sebuah tim yang dipersiapkan sebagai skuad andalan Indonesia di masa depan. Matte punya dua asisten yang siap menerjemahkan permainan maupun komunikasi di diri Danurwindo dan Harry Tjong. Berapa Don Romano dibayar? Menurut Rahim Soekasah, dia digaji 100 ribu dolar AS per tahun, sekitar Rp 17 juta per bulan. Cukup murah untuk ukuran sebuah tanggung jawab besar.
Soal melatih, Romano memang dikenal keras. “Begitulah dia, selalu terlihat seperti orang sedang marah-marah. Tapi mereka sudah terbiasa. Ini berdampak baik. anak-anak langsung kena shock-therapy, karena harus bisa, harus bisa!” komentar Harry Tjong, yang bertugas khusus sebagai pelatih kiper. “Saya senang dilatih oleh Mister Romano. Disiplinnya luar biasa. Bagus untuk kekompakan kami di lapangan,” aku Kurnia Sandy, kiper utama PSSI Primavera.
Akhirnya Romano Matte menjelaskan aksi bisunya selama ini. Memang, penyebabnya tidak jauh-jauh dari hasil mengecewakan Indonesia di laga pembukaan. Di benak Romano, rupanya ada yang tidak berjalan semestinya. Dia menyayangkan penampilan lini tengah kita kurang melakukan pressure ketat pada lawan. “Juga terlalu cepat melepas bola ke depan meski hanya ada Kurniawan sendirian. Mereka lupa dengan pola yang sudah direncanakan,” kritiknya.
Ditanya bagaimana kekuatan lain di Grup A, dia mengaku tak punya gambaran utuh. Namun secara umum, Romano memperhitungkan tim-tim Arab. “Yang terbaik? Saya lihat baru Irak dan Suriah,” tukasnya tanpa memerinci lebih panjang. Rupanya, itulah kenapa tadi dia banyak melongo dan serius menonton laga mereka.
Jika Romano terkesan stres, hal kebalikan dirasakan malah Kurniawan Dwi Yulianto. Kiprah anak Magelang ini tampak prospektif usai bikin satu-satunya gol lawan Qatar. “Kepercayaan diri saya mulai membaik, juga mental saya. Semoga bisa bikin gol lagi melawan Kazakhstan,” katanya sambil menyeringai. Ya, semoga Kur! Pasti Mister Romano akan tertawa lagi.

 

 

 

(foto: tjandra)